Wednesday, 16 October 2019

Cerita dari Kereta: Ekspedisi Jalur Kantong bagian II (Lawang-Surabaya)



Tulisan sebelumnya ada di sini.

Kami melanjutkan ekspedisi jalur kantong setelah menginap selama beberapa hari di kediaman keluarganya Balu. Awalnya, kami sudah berkemas-kemas dan menyiapkan diri sejak pagi sehabis shalat subuh. Setelah mandi dan sarapan, kami sempatkan untuk mengobrol sebentar sekaligus pamit dengan adik mbahnya Balu dan tetangganya yang masih saudaraan.

Setelah pamitan dengan keluarganya Balu, kami barulah melanjutkan ekspedisi. Kami berjalan kaki dari rumah ke stasiun Lawang yang jaraknya tidak terlalu jauh. Cukup berjalan kaki sekitar 15 menit, kami sudah sampai di stasiun Lawang. 
Stasiun Lawang di Pagi Hari


Jam sudah menunjukkan pukul 06.50 ketika kami tiba di sana. Stasiun saat itu masih sepi, belum banyak penumpang yang datang. Petugas borading juga belum nampak. Kami pun sampai ragu, boleh gak kami masuk duluan?! Untung saja, tak seberapa lama, petugas boarding datang. Kami segera melakukan boarding dan masuk ke dalam stasiun.

Pagi itu, sudah lumayan banyak orang menunggu kereta. Stasiun Lawang sudah cukup ramai dengan calon penumpang yang akan naik dari stasiun ini. Matahari pagi yang baru terbit mengahangatkan stasiun sekaligus menyilaukan mata kami.

Oh iya, ada satu yang tertinggal. Ekspedisi jalur kantong kali ini kami ketambahan personil. Kami saat ini ditemani oleh Faiq, saudara sepupunya Balu. Faiq datang menyusul kami dari Kediri ke sini dalam rangka liburan. 

Kami yang menunggu kereta

Sembari menunggu, saya pun iseng-iseng berburu foto dan video kereta, siapa tau ada kereta yang berhenti di sini. Hasilnya, hanya ada satu kereta yang berhenti di sini. KA Tersebut adalah KA Tambahan (ya! Namanya emang KA Tambahan...!) relasi Surabaya-Malang. Kereta ini adalah kereta kelas ekonomi premium yang menggunakan rangkaian Jayakarta Premium yang menganggur (idle) di stasiun Surabaya Gubeng. Kereta ini dijalankan pagi hari karena siangnya harus digunakan kembali untuk perjalanan KA Jayakarta Premium.
KA Tambahan tiba di Lawang

Tak lama setelah KA Tambahan datang, KA Penataran baru datang di stasiun Lawang. KA Penataran datang pada pukul 07.40. Tak lama berselang, KA Bima dari stasiun Gambir tiba di Lawang. Karena harus menunggu bersilang dengan Bima yang baru masuk, KA Penataran yang dijadwalkan berangkat pukul 07.49 harus berangkat pada pukul 07.52, telambat 4 menit.

Stasiun Lawang menjelang kedatangan KA Penataran

Kereta yang kami naiki adalah kereta Penataran dengan nomor perjalanan 432. Penataran 432 berangkat dari stasiun asal Blitar pada jam 05.00. Adapun kereta ini menggunakan lokomotif CC 2017713. Rangkaian kereta yang kami naiki adalah kereta ekonomi dengan kode K3 0 66 71. Susunan kursinya adalah kursi 3-2.


Perjalanan dari Lawang


KA Penataran berangkat meninggalkan stasiun Lawang yang merupakan salah satu stasiun kelas 1 di Kabupaten Malang. Semua perjalanan kereta berhenti di sini karena harus melakukan berbagai tahap pengecekan. Lintas Bangil-Malang merupakan salah satu lintasan kereta ekstrem.  Jalurnya menanjak curam sehingga penuh resiko.

Pemandangan dari belakang kereta dengan latar gunung Arjuno

KA Penataran melintas langsung di 3 (tiga) stasiun, yaitu stasiun Sengon, Sukorejo, dan Wonokerto. Ketiga stasiun tersebut terletak di Kab. Pasuruan. Ketiga stasiun tersebut memang hanya digunakan ketika terjadi persilangan dan persusulan kereta terjadi. Sepanjang perjalanan tampak persawahan. Terkadang, ada juga lahan kering nampak sekali-dua.

Kami tak lupa untuk backride di sana selagi boleh. Seperti biasa, saya mengabadikan momen-momen dari balik kaca pintu kereta. Dari sana, nampak pemandangan dengan latar belakang gunung Arjuno gagah berdiri. Momen tersebut saya manfaatkan untuk mengambil video sambil mengenang ketika mendaki di sana.

Saat backride itulah kecepatan kereta terasa lebih cepat. Perjalanan yang menurun menjadikan kereta melaju lebih kencang dari biasanya. Cepatnya laju kereta berlangsung hingga berhenti di stasiun Bangil.



A post shared by Ikhalid Rizqy Al Raihan (@ikhalid_ra) on


KA Penataran tiba di stasiun Bangil pada pukul 08.30. Stasiun Bangil merupakan stasiun utama di Kabupaten Pasuruan. Stasiun ini cukup besar, tersedia 9 jalur di stasiun ini. Stasiun ini cukup besar karena melayani pemberhentian menuju 2 arah berbeda, ke arah Malang dan Banyuwangi. Di sini, KA Penataran berhenti selama kira-kira 5 menit hingga kembali berangkat pada pukul 08.35.
Stasiun Bangil
KA Penataran lalu melanjutkan perjalanannya. Kami masih terus nge-backride selama perjalanan. Itu karena penumpang kereta semakin penuh. Kami tidak mau lagi berjalan melewati penumpang yang berdiri di lorong kereta. Lagipula, setelah berangkat dari Bangil, KA Penataran justru semakin ngebut. Kita yang berada di dalam seperti naik roller coaster.

Setelah "kebut-kebutan" di dalam kereta, KA Pentaran tiba di stasiun Porong jam 08.48. KA Penataran berhenti di sini hanya sebentar, cukup semenit saja. KA Penataran di sini bertemu sesama KA Penataran tujuan Malang. Ia pun berangkat kembali jam 08.49.


Dari stasiun Porong, KA Penataran melaju cukup kencang. KA Penataran lalu melewati kawasan banjir lumpur Porong. Banjir lumpur Lapindo yang terjadi pada 29 Mei 2006 ini menenggelamkan 16 desa di Sidoarjo. Bencana tersebut telah menenggelamkan rumah-rumah warga, merusak sarana umum, dan merusak lingkungan sekitar daerah terdampak. Kawasan sekitarnya menjadi lebih kering dan berbau belerang. Baunya bahkan sampai tercium ke dalam kereta yang kami naiki begitu melewati lumpur Lapindo.


KA Penataran lalu tiba di stasiun Tanggulangin pada jam 08.55. Stasiun ini tak begitu jauh dari lumpur Lapindo. KA Penataran hanya berhenti sebentar di sini, hanya sekitar 1 menit saja. Arus penumpang pun terlihat sepi di stasiun ini. Kemudian ia berangkat pada jam 08.56. Lalu Penataran berjalan hingga tiba di Sidoarjo jam 09.03. Cukup banyak penumpang yang turun di sini hingga keberangkatannya kembali pada jam 09.05.

Berangkat dari Sidoarjo, Penataran kemudian melaju hingga ke stasiun KA Gedangan. Penataran tiba di stasiun Gedangan pada pukul 09.14. Ia harus berhenti lama di sini karena harus menunggu bersilang dengan KA Mutiara Timur. Penataran yang kami naiki baru berangkat dari Gedangan pada 09.18. Pemberhentian berikutnya adalah stasiun Waru. Kereta berhenti di Waru jam 09.23. Stasiun Waru adalah pemberhentian terakhir kereta ini di Sidoarjo sebelum menuju Surabaya.

Berangkat dari Waru

Tiba di Surabaya

KA Penataran pun tiba di kota tujuan, Surabaya. KA Penataran menyusuri rel yang berdampingan dengan Jl Ahmad Yani beserta frontage road. Penataran melewati banyak gedung-gedung ikonik mulai dari City of Tomorrow, Menara Avian, Graha Pena, UIN Sunan Ampel, Jatim Expo, hingga ke Royal Plaza. 

Pemberhentian pertama Penataran di Surabaya adalah stasiun Wonokromo. Stasiun ini merupakan pertemuan antara lintas Surabaya-Kertosono dan Surabaya-Bangil. Stasiun ini pula mengingatkan saya ketika saya bersama kakek-nenek mencoba KA Komuter Supor (Surabaya-Porong) yang waktu itu masih baru diluncurkan, lupa tahun berapa. KA Penataran tiba di stasiun Wonokromo jam 09.31 dan berangkat kembali jam 09.33.

View this post on Instagram

Awalnya, saya mengenal kereta api karena keluarga saya seringkali bepergian dengan kereta waktu kecil dulu. Dulu, kami biasa naik KRL untuk berlibur ke Jakarta hingga naik Argo Bromo Anggrek untuk mudik lebaran. . Sekarang, naik kereta api seperti hobi dan pilihan ketika bepergian. Pulang dari kampus ke rumah, mudik lebaran, hingga jalan-jalan mengisi liburan selalu dengan kereta api. . Namun, lebih dari itu... Dari kereta api, kami belajar memperkuat kekompakan. Dari kereta api, kami belajar mengenal dan menghargai orang lain. Dari kereta api, kami juga belajar mencintai sejarah. . Maka, karena naik kereta api, kita belajar banyak hal. . #AyoNaikKereta ...! Khususon buat yang belum di-tag @allone.sign @athamahdi @harisabdul46 Monmaap min @keretaapikita @kai121_ kalo nge-tag temennya kebanyakan 😁✌️#KAIGiveaway #HarpelnasKAI #railfansindonesia #keretaapi #keretaapikita #railfans #keretaapiindonesia #dipolokomotifmojosari #dipolokomotifjatinegara #indonesianrailways #hobifotokeretaapi #semboyan35 #indonesianrailway #indonesianrailfans #cc20613100 #fotokeretakita #indonesiarailways #train #kereta #kai121 #bukansepurbiasa #railway #trainphotography
A post shared by Ikhalid Rizqy Al Raihan (@ikhalid_ra) on
KA Penataran melanjutkan perjalanannya dari stasiun Wonokromo. Kereta waktu itu sudah sepi karena banyak pernumpang yang turun di Wonokromo. Kami pun bisa duduk di manapun dengan leluasa. Kami memilih tempat duduk di rangkaian paling belakang agar tidak berjalan jauh-jauh. Kami pun sempat mengobrol singkat dengan petugas. Pak petugas pun tahu kalau kami sekadar joyride. Setelah menempuh beberapa saat, KA Penataran tiba di stasiun Surabaya Gubeng jam 9.39, lebih cepat semenit dari jadwal. Kemudian ia berangkat kembali jam 09.41.
Persiapan berangkat

Stasiun Surabaya Gubeng

Kawis Nusantara yang sedang parkir di stasiun Surabaya Gubeng

Setelah menyusuri jalur dalam kota Surabaya, KA Penataran yang kami naiki akhirnya tiba di stasiun akhir Surabaya Kota. Stasiun yang dikenal juga dengan Stasiun Semut merupakan salah satu stasiun bertipe terminus (stasiun ujung tanpa jalur lanjutan) seperti stasiun Jakarta Kota, Tangerang, Merak dan stasiun Kertapati di Palembang. Penataran tiba di Surabaya Kota jam 09.53. kami pun mengakhiri perjalanan di sini sembari transit menunggu kereta berikutnya.

Akhirnya tiba di Surabaya Kota
Read More

Sunday, 22 September 2019

Cerita Dari Kereta: Ekspedisi Jalur Kantong bagian Pertama (Tulungagung-Lawang) dengan KA Dhoho-Penataran





Jalur kantong adalah jalur kereta api yang melintas dari Kertosono, Nganjuk ke Bangil, Pasuruan. Ia adalah jalur penting menghubungkan kota-kota utama seperti Kediri, Blitar, dan Malang. Jalur ini selalu dilalui oleh kereta-kereta dari Jakarta dan Bandung menuju kota-kota tersebut. Selain itu, terdapat pula armada kereta lokal untuk mengakomodasi masyarakat Jawa Timur yang bepergian antar kota.

Kereta itu adalah kereta api Penataran. KA Penataran menurut ibu saya sudah ada sejak tahun 1970-an menurut penuturan orang tua saya. Kereta api ini melayani perjalanan Surabaya-Malang-Blitar. Kemudian, kereta Penataran berganti nama menjadi KA Dhoho, melewati Kertosono-Jombang dan mengakhiri perjalanan di Surabaya.

Saya bersama Harun, Balu, dan Hasbi menjajal ekspedisi jalur kantong dengan KA ini. Perjalanan kami dimulai dari stasiun Tulungagung menuju Lawang. Lanjut dari Lawang ke Surabaya Kota, dan perjalanan berakhir di Surabaya Kota via Kertosono ke Tulungagung. Karena "ekspedisi" ini dilakukan di hari yang berbeda, maka tulisan ini akan saya buat dalam tiga seri berbeda pula, seperti tulisan saya tentang ekspedisi jalur mati Ponorogo-Slahung. Kali ini, saya akan menceritakan ekspedisi dengan kereta api Dhoho-Penataran.

Mengawali dari Tulungagung

Kami memulai perjalanan dari Trenggalek, kota tempat tinggal Balu. Karena tidak ada layanan kereta api di Trenggalek, kami harus naik mobil ke Tulungagung. Perjalanan Trenggalek-Tulungagung menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Kebetulan, ibu dan mbahnya Balu juga ikut karena memang ingin bertemu keluarganya di Lawang, Malang.

Kami tiba di stasiun Tulungagung kira-kira pada jam 12.15. Kami pun terburu-buru takut ketinggalan kereta. Untungnya kereta masih belum datang. Kami pun sempat kembali ke parkiran dan membawakan barang-barang mbahnya Balu. Setelah semua sampai di stasiun, Hasbi yang memesankan tiket melakukan proses boarding karena ia yang memesankan tiket untuk kami semua lewat aplikasi KAI Access. Begitu boarding selesai, kami semua bisa masuk ke dalam peron stasiun.

Peron stasiun Tulungagung sudah penuh dengan calon penumpang. Para calong penumpang memadati stasiun bersiap-siap untuk menunggu kereta selanjutnya yang lewat. Karena itulah kami harus menyeberang ke peron lain yang agak kosong. Di situlah kami bertemu dengan saudara mbahnya Balu yang kebetulan ingin ikut ke Lawang.

KA Dhoho pun tiba tepat waktu. Kami segera masuk kereta agar dapat tempat. Kami berebutan dengan penumpang lain karena banyak juga yang ingin naik atau turun dari kereta. Dengan mendahulukan orang tua, kami baru duduk setelah ibu dan mbah-mbahnya Balu mendapatkan kursi. 


Rangkaian kereta (bukan gerbong, ya...) yang kami naiki adalah rangkaian kelas ekonomi dengan nomor K3 0 65 21. Umurnya lebih tua dari kedua orang tua saya. Kapasitasnya 106 penumpang a la kereta ekonomi PSO (public Service Obligation) alias KA subsidi. Uniknya, nomor rangkaian KA ini dihitung terbalik. Jika biasanya rangkaian kereta dari belakang lokomotif dinomori 1,2,3 dst., kalau kereta di perjalanan ini diberi nomor urut 5,4,3 sampai kereta paling belakang dinomori Ekonomi 1. Kami duduk di tepat di belakang lokomotif yang dihitung sebagai kereta ekonomi 5, alih-alih ekonomi 1.
Rangkaian kereta dengan nomor seri K3 0 65 21
Selama di kereta, saya banyak mengobrol dengan kakeknya Balu. Beliau mendoakan saya agar sukses dan sehat selalu. Obrolan kami berlanjut hingga KA Dhoho berhenti di stasiun Sumbergempol. Ketika berhenti di sana, tidak banyak penumpang yang naik turun. Kereta pun melanjutkan perjalanannya hingga di stasiun Ngunut. Di  Ngunut, KA Dhoho bertemu dengan sesama KA Dhoho yang menuju Kertosono hingga Surabaya.

Pemberhentian selanjutnya adalah stasiun Rejotangan. Stasiun ini merupakan stasiun paling timur di Tulungagung. Di sinilah saya mengabadikan momen persilangan KA selama ekspedisi ini. Kali ini KA Dhoho bersilang dengan KA Brantas tujuan Pasar Senen yang melintas langsung. Setelah mendapatkan sinyal keluar dan PPKA mengeluarkan tanda boleh berangkat, KA Dhoho baru berangkat di stasiun Rejotangan.
Menunggu bersilang dengan KA Brantas di stasiun Rejotangan
KA Dhoho kemudian tiba di stasiun besar Blitar. Stasiun Blitar adalah stasiun pemberhentian akhir KA Dhoho. Namun, tak berarti ekspedisi jalur kantong saya berakhir. Itu karena KA ini akan lanjut berdinas kembali namun dengan nama berbeda, yakni Penataran. 

Berangkat Sebagai KA Penataran


Kereta yang kami naiki berangkat meninggalkan stasiun Blitar dengan nama KA Penataran. Saat ini kami duduk di KA Ekonomi 1, setelah sebelumnya berada di Ekonomi 5 tanpa berpindah kursi. Koq bisa? Selama berhenti di Blitar, KA Penataran tidak hanya berganti nama, namun juga susunan nomor kereta juga diganti. Penomoran kereta penumpang dikembalikan ke susunan yang normal. Dari depan kereta Ekonomi 1, kemudian Ekonomi 2, 3 dan seterusnya.

Dipo Kereta Api Blitar
Selama perjalanan menyusuri Blitar, pemandangan indah persawahan Blitar menghampar di sepanjang jalan. Beberapa kali diselingi juga dengan suasana kota Blitar yang dikenal sebagai kota Proklamator karena di sinilah Presiden pertama Indonesia Soekarno menghabiskan masa kecilnya. Soekarno juga dimakamkan di kota ini. 

Prama (istilah untuk pramugara KA) mulai berkeliling menjajakan makanan bagi para penumpang. Kebetulan,, kami semua belum makan siang sehingga rasa lapar melanda. Hanya ada dua menu yang disajikan waktu itu, yakni nasi krengsengan dan nasi pecel. Kala itu, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 jadi mungkin menu lain sudah habis. Uniknya, makanan yang dijual tidak dikemas dalam box seperti di kereta jarak jauh, tapi dibungkus daun pisang dan kertas nasi seperti warung. Satu porsi nasi dihargai Rp 10.000,00. Kami semua memesan nasi pecel, kecuali mbahnya Balu memesan nasi krengsengan karena memang tersisa satu porsi.
Nasi pecel khas KA Lokal Penataran
Setelah menempuh jarah yang lumayan, KA Penataran berhenti di stasiun Talun. Stasiun Talun terletak di Kabupaten Blitar. Stasiun kecil ini adalah stasiun tertinggi di Daop VII bersama-sama stasiun Garum dengan ketinggian +244 mdpl. Setelah itu barulah berhenti di Garum, stasiun ujung Daerah Operasi VII Madiun.

Asyiknya Backride

Buat para penghobi kereta, tentu sudah tak asing dengan istilah backride. Backride diartikan sebagai aktivitas naik kereta di buntut kereta alias bordes di rangkaian paling belakang. Backride  disukai karena kita dapat mengintip penandangan dari balik kaca pintu bordes. Kita melihatnya seakan-akan berjalan mundur meninggalkan objek itu.

Sebenarnya, backride adalah aktivitas yang tidak dibenarkan dalam kereta api. Bisa-bisa kita diperingatkan oleh Polsuska kalau kedapatan ngebordes lama-lama. Namun, kalau kita naik kereta lokal, hal backride dapat dimaklumi. Ini karena setiap penumpang kereta lokal tidak mendapat tempat duduk dalam tiketnya. Jadi, mau duduk di mana aja terserah penumpang. Mau di kereta penumpang, kereta makan, atau di bordes sekalipun, penumpang dapat naik asal punya tiket.


Kami berempat melakukan backride setelah setelah stasiun Kesamben, Blitar. Stasiun Kesamben merupakan stasiun kelas III yang berada di Kesamben, Blitar. Setelah itu barulah kami beranjak dari tempat duduk kami ke kereta paling belakang.

Perjuangan luar biasa untuk berpindah dari kursi kami di depan ke kereta paling belakang. Kami harus melewati puluhan orang yang berdiri di lorong kereta. Belum lagi jika ada yang duduk neg-bordes atau ngemper di lantai-lantai kereta. Kami harus berhati-hati dalam melangkah agar tidak menginjak orang lain. Tidak hanya itu, ada pula anak-anak kecil yang suka ke sana kemari yang harus kita lewati.

Berpapasan dengan KA Gajayana
Sesampainya di "ekor" kereta, saya merasa sedikit lega. Di sana sudah ada tiga orang, seorang laki-laki paruh baya dan dua orang perempuan muda, Namun, ternyata ada yang ketinggalan. Harun rupanya belum datang. Setelah menunggu beberapa saat, ia datang dengan jalan agak terpincang-pincang. Rupanya ia tak sengaja menendang koper seorang penumpang. Kami pun panik mendengarnya. Untungya dia mampu menahan sakitnya dan tetap mau nge-backride.

Kami bertiga akhirnya yang berfoto-foto menikmati suasana dari balik bordes. Tampak jelas sawah-sawah di belakang kami. Pemandangan terasa lebih indah setelah memasuki Malang.Jalur kereta terlihat membelah tebing. Belum lagi kita akan merasakan sensasi horor ketika kereta lewat di terowongan Eka Bakti Karya dan Dwi Bakti Karya.

Setelah puas foto-foto dan video, kami pun berkenalan dengan penumpang yang ikut backride. Salah satunya dengan  perempuan muda yang sudah di situ sebelum kami. Riefcha, begitulah ia mengenalkan dirinya. Ia seumuran dengan saya dan juga sama-sama baru menyelesaikan studinya di salah satu PTN di Tulungagung. Kami saling membicarakan satu sama lain tentang skripsi dan kampus kami. Obrolan kami berlanjut hingga kereta Penataran tiba di Sumberpucung untuk menunggu Malioboro Ekspres.

Stasiun Sumberpucung
Menunggu persusulan dengan KA Malioboro Ekspres
Berakhir di Malang

Perjalanan dengan KA Penataran mulai mendekati kota Malang. Saya pun mulai familiar dengan wilayah Malang ketika KA Penataran mulai berhenti di stasiun Kepanjen, salah satu kampung halaman saya. Keluarga ayah saya saat ini tinggal di dekat ibukota kabupaten Malang tersebut. 

Setelah berhenti selama beberapa menit di Kepanjen, KA Penataran melanjutkan perjalannya menyusuri kota Malang hingga berhenti di stasiun Malang Kota Lama. Stasiun Malang Kota Lama disebut demikian karena berdekatan dengan kawasan Kota Lama. Stasiun ini menjadi pintu gerbang bagi kereta api jarak jauh yang menuju Malang. Di sebelah kami, kereta api Malabar tujuan Bandung siap berangkat, yang ditarik lokomotif CC 206 13 55 yang terkenal di kalangan pecinta kereta api lantaran pernah terlibat kecelakaan KA Malabar di Tasikmalaya tahun 2014 lalu.

Stasiun Malang Kota Lama dari belakang KA Penataran



Di sebelah kiri terlihat KA Malabar bersiap-siap meninggalkan stasiun Malang Kota Lama
Perjalanan berlanjut dari Malang Kota Lama. Saat itu kami masih berada di bordes menikmati backride. Tak jauh dari Malang Kota Lama, ternyata KA Penataran melintasi Kampung Wisata Jodipan. Kami pun tak mau menyia-nyiakan momen berharga ini. Saya dan Balu pun berbagi tugas untuk mendokumentasikan momen ini, saya merekam dari samping, sementara Balu merekam dari belakang.

Kampung wisata Jodipan tampak dari jendela KA Penataran
Sore yang cerah pada waktu itu membuat kami tak berhenti mengambil gambar kenangan. Di sisi jalur kereta banyak rumah kecil berdiri. Sangat berbahaya jika ada rumah atau bangunan di sekitar rel kereta. Terlebih banyak orang yang duduk-duduk di atas rel kereta. Ada juga anak-anak yang bermain layang-layang di sana.

KA Penataran lalu berhenti di stasiun Malang. Stasiun ini tergolong stasiun besar dan banyak kereta api yang berakhir di stasiun ini. Banyak penumpang yang naik turun di stasiun ini, membuat siklus penumpang di sini sangat ramai sore itu. Kami pun harus keluar kereta untuk kembali ke tempat duduk kami. Ya, kami mengakhiri backride di stasiun ini karena hari sudah semakin gelap dan kami juga mulai kelelahan.
Stasiun Malang
KA Penataran masih berjalan hingga berhenti di stasiun Lawang. KA Penataran tiba di stasiun Lawang kira-kira di jam 17.30. Hari sudah makin gelap menuju maghrib. Kami semua turun di sini dan menyambung dengan menyarter angkot ke rumah keluarganya Balu. Ekspedisi jalur kantong bagian I pun berakhir di sini.
Akhirnya tiba di Lawang
Read More

Friday, 9 August 2019

Cerita dari Kereta: Menjajal Light Rail Transit (LRT) Jakarta



Setelah kembali dari mudik lebaran, masih ada sisa 5 hari untuk beristirahat di rumah sebelum kembali ke kampus. Di situlah mulai bingung mau merancang agenda di sisa hari di rumah ini. Mau keliling kota, udah bosan. Mau jalan-jalan, tidak ada teman. Seharian di rumah pun sangat membosankan.

Rasa ingin bepergian pun menggebu-gebu ketika adik saya ingin jalan bareng teman sekolahnya. Ceritanya, temannya yang dari jauh akan datang untuk berlibur di Bogor. Dia berencana akan menginap di rumah untuk beberapa hari. Mereka akan menghabiskan waktu berkeliling Bogor dan Jakarta dengan teman lainnya yang tinggal tidak jauh dari rumah. Keder juga aku jadi orang yang paling ganteng di rumah...!

Akhirnya, saya iseng-iseng mencoba googling mencari event terdekat selama di rumah. Eh lha dalah, ternyata saya menemukan info uji publik Light Rail Transit (LRT) Jakarta mulai dibuka tanggal 11 Juni. Segera saya klik link yang ada di profil instagram LRT Jakarta untuk mendaftarkan diri. Saya cepat-cepat daftar agar tidak kehabisan tiket. 

Saya pun mencoba-coba mencari hari operasional yang tersedia. Ternyata, hari pertama pun saya masih bisa mendapatkan tiket. Setelah mengumpulkan e-formulir, saya mendapatkan 2 email dari LRT Jakarta sekaligus. Email pertama berisi konfirmasi, dan yang kedua adalah tiket elektronik. Tiketnya dapat dicetak karena dikirimkan dalam format pdf. Alhamdulillah, saya bisa mencoba LRT di hari pertama uji publiknya.

Tiket LRT sendiri menerangkan kapan jadwal operasionalnya. Dalam tiket tertulis jam operasionalnya, dari pukul 05.30-22.30. E-ticket hanya berlaku untuk sekali perjalanan namun kita bebas mau naik kapan saja asal masih di dalam jam operasional. 

LRT Jakarta merupakan salah satu moda transportasi terbaru di Jakarta. Ia melengkapi sarana transportasi umum berbasis rel setelah KRL Commuterline dan MRT Jakarta. Kereta LRT diproduksi oleh Hyundai Rotem, anak perusahaan raksasa Korea Hyundai. Sedangkan prasarananya berupa jalur, stasiun dan penunjang lainnya dikerjakan PT Jakarta Propertindo atau Jakpro, sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov DKI Jakarta dalam bidang properti. Sedangkan, operator LRT adalah PT LRT Jakarta.

Pembangunan jalur LRT Jakarta saat ini sudah selesai di tahap I. Jalur tersebut terbentang dari Rawamangun sampai Kelapa Gading dengan relasi Velodrome-Boulevard Utara. Jalur LRT yang sudah rampung ini terbentang sepanjang kurang lebih 5 km. 

Naik dari Bogor

Untuk mencoba LRT Jakarta dari Bogor, pertama saya menaiki KRL Commuter Line. Saya memang terbiasa naik KRL untuk perjalanan ke Jakarta karena tiketnya murah dan lebih cepat dibandingkan sarana lainnya. Saya kemudian turun di stasiun Manggarai. Stasiun Manggarai adalah stasiun terdekat menuju stasiun LRT Velodrome. Kita dapat mengggunakan semua KRL dari Bogor menuju segala stasiun, baik Red Line (Bogor-Jakarta Kota) atau Loopline (Bogor-Angke atau Jatinegara) karena semuanya berhenti di stasiun Manggarai sebagai stasiun transit.

Saya kemudian memesan Go-Jek dari Manggarai. Jarak dari Stasiun Manggarai ke stasiun Velodrome lumayan jauh, sekitar 6,8 km. Saya harus membayar Rp 18.000,00 untuk GoRide ke Velodrome. Saya bersyukur dapat driver yang sepantaran dengan saya. Kami pun mengobrol banyak selama di perjalanan, umumnya tentang kehidupan saya sebagai staf universitas dan kehidupannya sebagai guru honorer di daerah Cakung, Jakarta Timur. Kami saling berbagi pengalaman dan suka duka setelah lulus kuliah (kami kebetulan sama-sama fresh graduate). Awalnya ia tak tahu stasiun Velodrome karena masih baru. Untungnya, Velodrome bersebelahan dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) jadi dia langsung tahu letaknya begitu saya tunjukkan posisi stasiun Velodrome di Google Maps. Maka, kami pun sepakat untuk turun di halte UNJ.


Mencoba LRT dari Stasiun Velodrome


Saya pun berjalan kaki ke stasiun Velodrome. Stasiun Velodrome ketika itu masih kinyis-kinyis baru selesai dibangun. Jalur LRT sepenuhnya dibangun melayang (elevated). Untuk mencapai atas stasiun tersedia eskalator di pintu masuk. Saya kemudian disambut oleh petugas keamanan yang memeriksa tiket online para penumpang. 

Saya naik eskalator ke peron stasiun di atas. Tiba di peron, saya langsung menghampiri loket kereta. Saya ke loket untuk menukarkan e-ticket dengan selembar tiket. Ternyata, saya diarahkan ke petugas jaga di sebelah loket. Saya pun menunujukkan e-ticket kepada mbak-mbak petugas dan diberikan tiket yang berbentuk kartu seperti tiket KMT (Kartu Multi Trip) KRL.


Tiket LRT ini dapat digunakan untuk sekali tap seperti di stasiun KRL. Kartu ini berlaku bagi pengguna setelah 2 jam pemakaian. Artinya kita bisa bolak-balik naik LRT (dalam masa uji publik) selama 2 jam asalkan kita belum tap-out

Tiket pun sudah ada di tangan. Saya lalu tap-in sebagaimana saya tap-in masuk KRL. Setelah portal otomatis terbuka, saya menunggu kereta LRT di peron. Di sana sudah banyak masyarakat dan wartawan mengabadikan momen uji coba perdana. Saya pun tak mau ketinggalan untuk mengabadikan momen ini.

Kereta LRT pun datang setelah menunggu agak lama. Kereta LRT berwarna kombinasi merah dan abu-abu terdiri dari dua rangkaian kereta. Kereta ini digerakkan oleh listrik aliran bawah berdaya 750 volt. Kereta LRT berjalan di atas rel selebar 1435 mm, lebar sepur standar internasional yang lebih lebar dari rel di Indonesia (1067 mm).


Begitu kereta berhenti dengan sempurna, pintu otomatis atau Platform Screen Door (PSD) dibuka. PSD dibuat untuk mencegah penumpang terjatuh ke rel LRT. PSD terbuka tepat ketika pintu kereta LRT dibuka. Bayangin aja kalau PSD dan pintu kereta LRT posisinya tidak pas, bagaimana penumpang bisa masuk?!

Saya pun masuk ke dalam kereta LRT. Saya masuk ke kereta rangkaian belakang karena agak sepi. Kereta depan sudah ramai oleh penumpang, wartawan, dan petugas. Di dalam kereta, lagi-lagi banyak penumpang yang memfoto dan merekam video. Saya pun ikut memfoto, lumayan buat bahan blog ini.

Interior kereta agak mirip dengan interior KRL. Kursinya dibuat berjajar menempel di pintu. Ada tempat gantung untuk penumpang yang berdiri. Terdapat pula tempat untuk penumpang berkursi roda di pintu samping bordes yang didesain tanpa kursi. Fasilitas penunjang di setiap kereta adalah layar LCD di atas pintu dan bordes, alat pemadam api ringan (APAR), dan beberapa papan petunjuk. Layar LCD menunjukkan rute dan stasiun pemberhentian berikutnya. APAR terletak di sebelah bordes. Papan petunjuk berupa panduan evakuasi, tempat duduk prioritas, dan petunjuk lainnya.










LRT pun Berjalan

Kereta LRT yang saya tumpangi perlahan meninggalkan stasiun Velodrome. LRT memulai perjalannya mengangkut penumpang yang antusias. Banyak masyarakat yang berfoto-foto. Ada pula beberapa orang petugas yang menginspeksi kereta LRT. Sementara itu, kereta masih terus berjalan melintasi jalur rel layang di Jakarta. 

LRT berjalan pada kecepatan 60-70 km/jam. Perjalanan LRT terasa halus. Tidak ada goncangan yang terasa sebagaimana naik kereta-kereta lain. Saya yang berdiri pun tidak merasakan goncangan berarti selama perjalanan. Kondisi di dalam kereta pun terasa bersih dan nyaman. AC kereta cukup sejuk. Kereta juga terasa tenang karena tidak ngebut. Di dalam kereta selalu disetel pengumuman tentang petunjuk keselamatan dalam LRT. 

Selama perjalanan, gedung-gedung nampak berdiri. Gedung-gedung terlihat setengahnya tertutup oleh rel kereta. Ada yang hanya terlihat atap atau tulisannya saja. Rumah-rumah kelihatan kecil jika kita melihat dari jendela kereta. Terdapat salah satu tempat yang menarik perhatian saya selama perjalanan ini. Kereta LRT melintas di Gedung Advokat Hotman Paris. Ternyata, sang pengacara ngantor di situ, ya...! Maklum, saya yang jarang banget jalan-jalan di Jakarta antusias banget (baca: ndeso) begitu melihat kantornya. 

Kereta berhenti di setiap stasiun LRT yang disinggahi. Di stasiun-stasiun pemberhentian, tidak banyak penumpang yang berhenti di sini kecuali petugas. Mayoritas penumpang sepertinya banyak memanfaatkan uji coba publik LRT ini untuk menjajal kereta LRT secara full trip. Stasiun-stasiun pemberhentian tersebut adalah (berurutan dari Velodrome ke Boulevard Utara): 
  • Stasiun Equestrian
  • Stasiun Pulomas
  • Stasiun Boulevard Selatan
  • Stasiun Boulevard Utara
Stasiun Equestrian dari dalam LRT

Tiba di Pemberhentian Akhir

Setelah menempuh perjalanan selama kira-kira 15 menit, LRT akhirnya tiba di stasiun akhir Boulevard Utara. Stasiun ini terletak di Kel. Kelapa Gading Timur, Kec. Kelapa Gading, Jakarta Utara. Stasiun LRT Boulevard Utara posisinya cukup strategis. Ia berada di atas Jl. Boulevard Raya dan berdekatan dengan Mall Kelapa Gading. Ia juga di atas kompleks ruko Kelapa Gading yang memiliki banyak perkantoran, bank,, restoran, dan minimarket.

Stasiun Boulevard Utara
Saya datang dengan "disambut" oleh petugas berseragam, mulai dari petugas keamanan kereta, petugas operator LRT, sampai petugas kepolisian. Tentunya bukan disambut beneran, tapi mereka sudah memenuhi peron stasiun. Mungkin untuk menjaga keamanan, atau juga untuk menunggu kereta LRT datang lagi.

Di stasiun ini saya meihat pula banyak orang yang nangkring di jembatan penyeberangan antar peron. Beberapa di antara mereka terlihat membawa kamera. Mereka rata-rata mengambil gambar suasana stasiun atau sekadar menunggu kereta berikutnya datang. 
Tangga penyeberangan antar peron di Stasiun Boulevard Utara
Saya pun ingin mencari keberadaan tangga menuju ke penyeberangan tersebut. Saya akhirnya menghampiri gerbang keluar kemudian tapping. Setelah tap out, langsung saya keluar dari gerbang. Harapan saya waktu itu agar bisa menemukan tangga ke seberang sana dan naik LRT lagi.

Tapi ternyata, perkiraan saya salah besar. Tangga menuju penyeberangan berada di dalam stasiun LRT, tepatnya di depan tangga. Ketika keluar dari kereta, saya tidak mencari tahu posisi tengga menuju penyeberangan. Begitu pula ketika tap out, saya tidak memperhatikan ada tangga di depannya. Sehingga saya baru menyadari kalau saya bisa menyeberang jika tidak tap out di gerbang dahulu. Tiket pun sudah kadung dikembalikan. Hangus suda kesempatan saya untuk kembali ke stasiun Velodrome dengan LRT.

Yah, bagaimapun juga, yang penting sudah mencoba LRT! Waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan rambu-rambu di stasiun LRT. Saat ini, informasi sudah tersedia lebih lengkap di stasiun. Salah satunya dengan adanya layar LCD yang menunjukkan kedatangan kereta LRT. Jadi, tidak ada lagi cerita kesasar atau salah turun kecuali kalau kamu memang lagi kurang fokus. Semoga ke depannya LRT Jakarta bisa terus berinovasi untuk melayani publik.

Update: Saat ini LRT Jakarta masih dalam masa uji coba. Uji coba yang dilakukan adalah uji coba e-ticketing dengan kartu bank. Selengkapnya dapat dilihat di situs LRT Jakarta

Read More