Monday, 10 June 2019

Stasiun Non-Aktif Slahung, Terpojok di Antara Hiruk Pikuk Pasar



Setelah meninggalkan Stasiun Balong dengan berjuta rasa tak enak, saya dan Balu kembali melanjutkan perjalanan menjelajahi stasiun-stasiun mati di Ponorogo. Perjalanan kami mulai dari stasiun Balong, kemudian berbelok ke arah selatan melewati pasar Balong. Dari pasar Balong perjalanan masih panjang hingga ke kecamatan Slahung, destinasi kami. Stasiun Slahung-lah yang akan kami tuju.

Perjalanan menuju stasiun Slahung diwarnai dengan rute yang variatif. Ketika masih berada di Balong, kondisi geografisnya masih berupa dataran rendah dengan persawahan di kanan kiri jalan. Namun, kondisi berbeda ketika memasuki kecamatan Slahung. Kecamatan Slahung merupakan salah satu kecamatan yang sebagian wilayahnya berupa perbukitan. Begitu pun dengan jalan menuju stasiun Slahung. Jalan Ponorogo-Pacitan yang mengarah ke sana memiliki karakteristik berkelok dengan tebing dan lembah di kanan kirinya.

Yang membuat saya takjub dengan di daerah ini adalah bagaimana rel kereta api dapat dibangun. Daerah bertebing seperti Slahung sepertiya agak susah untuk dibangun jalur kereta. Kalaupun dibangun bersisian dengan jalan raya seperti jalur di Ponorogo pada umumnya, menurut saya agak sulit dibangun juga karena di sisi jalan sudah berdiri tebing dan lembah yang agak dalam. Tapi ternyata jalur Balong-Slahung dibuat dengan membangunnya di tanah yang rata di sepanjang tebing. Balu-lah yang menemukan buktinya. Dia menemukan salah satu patok di perbukitan pinggir jalan. Ada beberapa kawasan di perbukitan yang sudah dihuni oleh warga. Kemungkinan daerah-daerah itulah yang dulunya dibangun rel di atasnya.

Tentang Stasiun Slahung


Stasiun Slahung sendiri merupakan perpanjangan dari jalur Ponorogo-Balong. Ia baru diresmikan penggunaannya pada tahun 1922. Awalnya, pembangunan jalur kereta di Ponorogo direncanakan hanya sampai Balong. Namun, Pembangunan jalur tersebut diperpanjang hingga Slahung karena potensi batu gamping yang melimpah di kawasan Slahung. Adanya jalur kereta di Slahung dapat memudahkan arus distribusi gamping atau hasil bumi lain ke Ponorogo dan kota-kota lain.



Namun, cerita manis kereta api di Slahung berakhir menyedihkan. Jalur Balong-Slahung ditutup pada tahun 1983, setahun lebih cepat dari jalur Ponorogo-Balong. Jalur Balong-Slahung harus ditutup lagi-lagi karena masalah okupansi. Kemudian, jalur Ponorogo-Balong menyusul pada 1984.

Bekas stasiun Slahung terletak di belakang pasar Slahung. Posisinya meneyndiri di belakang kantor desa Slahung. Dari arah Balong, perjalanan berlanjut kira-kira 15 menit melewati Jl. Ponorogo-Pacitan. Setelah melewati persawahan di Balong, kita melewati perbukitan dan jalan yang berkelok-kelok. Begitu memasuki pasar Slahung, akan dijumpai lagi keramaian masyarakat karena adanya pasar dan terminal. Sebelum masuk pasar, kita akan menemukan SPBU dan balai desa Slahung. Di samping balai desa terdapat jalan bekas terminal yang mengantarkan kita ke bekas stasiun tersebut.

Stasiunnya berada di balik terminal Slahung. Jalanannya masih berpasir. Cuaca panas dan kering membuat debu beterbangan ketika kami melintasinya. Jaraknya tidak terlalu jauh, kira-kira 200 meter dari jalan raya. Setelah melewati terminal, ternyata ada beberapa rumah warga dan gudang yang ada di sana. Selain itu, tanah lapang terhampar di balik bangunan stasiun.

Karena panas, kami pun memarkirkan sepeda motor di sebuah rumah kosong di seberang stasiun. Rumah itu penuh dengan nuansa klasik dengan cat warna kombinasi biru dan putih. Saya memperkirakan rumah tersebut adalah salah satu rumah dinas pegawai eks-stasiun jika dilihat dari arsitekturnya. Meskipun terlihat kosong, rumah itu terawat dengan baik. Ia pun nampak berpenghuni mungkin penghuninya sedang ada urusan di luar.
Emplasemen stasiun nonaktif Slahung
Kami pun melanjutkan perjalanan di sekitar stasiun. Di sekitar stasiun terdapat tanah lapang yang sangat luas. Sepertinya lapangan ini adalah bekas emplasemen stasiun. Sayang sekali, tidak terlihat bekas-bekas jalur kereta api di sini. Tidak ada rel, bantalan rel atau apapun.  Tidak ada pula alat untuk mengganti posisi lokomotif seperti turntable, segitiga pembalik atau balloon loop. Padahal, itu semua penitng karena stasiun Slahung merupakan stasiun terminus.  Biasanya, stasiun terminus memiliki alat pemutar lokomotif agar lokomotif dapat melanjutkan perjalanan ke arah sebaliknya. 

Kami pun mencoba masuk ke dalam stasiun. Kondisi dalam stasiun gelap dan dingin. Stasiun ini digunakan sebagai gudang penyimpanan kunyit. Namun, ternyata ada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk sendirian di dalam. Ia sedang sibuk membersihkan jahe yang sedang ditimbun. Ia membersihkannya dari kotoran mencabut akar-akar yang tersisa. Dari fisiknya, ia nampak berusia 50-60 tahunan.

Cerita di Balik Stasiun Slahung 
Bagian belakang stasiun Slahung
Kami pun mendekati si ibu untuk mencari informasi tentang keberadaan stasiun ini. Untungnya, kali ini kami tak salah orang. Bu Surti menyambut kami dengan ramah dan keibuan. Leibih beruntungnya lagi, beliau merupakan salah seorang tokoh kunci di balik keberadaan stasiun ini. Kami pun asyik mengobrol dengannya sembari mencari tahu bagaimana stasiun Slahung di masa jayanya.
Beliau sendiri adalah menantu dari salah seorang masinis. Pada saat mertuanya masih berdinas, beliau selalu bersama sang suami selalu menyertai bapak mertua berdinas di jalur Ponorogo-Slahung. Namun, bapak mertuanya sudah lama tiada. Sang suami pun sedang tidak ada di tempat. Kami tidak berhasil menjumpai suaminya yang siapa tahu bisa menjadi saksi hidup berikutnya.

Setelah jalur Ponorogo-Slahung ditutup, beliau sekeluarga masih menetap di sekitar bekas emplasemen stasiun Slahung. Bahkan, keluarganya masih diberikan hak guna tanah di eks-stasiun Slahung. Tentunya dengan membayar sewa yang tidak disebutkan besarannya. Uang sewa diserahkan kepada pemerintah desa setempat. Pemberian hak tersebut mungkin karena keluarganya telah berjasa menjadi pegawai PJKA di stasiun Slahung.

Beliau pun melanjutkan ceritanya. Tidak lagi soal bekas stasiun Slahung, namun soal keluarganya. Beliau menceritakan anak-anaknya yang kebanyakan pergi ke luar kota. Air mata beliau menetes dari sela-sela matanya. Nampak raut sedih terpancar dari mukanya. Akan tetapi, itu bukan air mata duka, namun itu air mata bahagia. Sambil menitikkan haru, beliau menceritakan dengan bangga anak-anaknya yang sudah sukses di luar sana. Ada yang menjadi dokter, ada pula yang menjadi isteri seorang petinggi tentara di Surabaya. Beliau menuturkan bahwa anak-anaknya sering menghubunginya via telepon menceritakan kehidupan masing-masing. Mereka juga selalu berkumpul setidaknya di hari raya.



Terakhir, beliau menasihati kami agar selalu kerja keras dan mendoakan orang tua. Karena berkat dua hal itu, kesuksesan bisa kita raih.

Sebelum pamitan, kami sempat mengabadikan interior bekas stasiun Slahung. Stasiun Slahung terbagi ke tiga ruangan. Satu ruangan yang kami tempati adalah ruang utama. Satu ruangan lebih kecil adalah loket dan ruangan lain yang berukuran sama besar dengan ruangan utama. Kemungkinan ruangan ini adalah bekas kantor kepala stasiun. Ruangan terakhir ini sangat gelap. Kami sampai harus menyalakan senter untuk bisa melihat dalammnya. Di dalamnya terdapat dipan kecil dari besi model lawas. Di sampingya ada mukena dan sajadah digantung pada seutas tali. Ruangan itu mungkin sepertinya digunakan oleh Bu Surti untuk beristirahat dan shalat. Kami tidak bisa masuk loket karena tertutup. 

Akhirnya kami berpamitan dengan Bu Surti dan meninggalkan eks-Stasiun Slahung. Sebelum benar-benar pergi, kami masih penasaran dengan luarnya. Akhirnya kami pun mendokumentasikan sekitar bekas stasiun. Kemudian, kami benar-benar pergi meninggalkan stasiun. 
Ada pesan yang dapat diambil dari perjalanan kali ini. Pertama, setiap benda pasti meninggalkan sejarah di dalamnya. Meskipun wujudnya sudah tak elok dan tak lagi digunakan, benda-benda tetap menginggalkan cerita. Kedua, tak semua orang sudi menerima kita. Saat itulah kita harus muhasabah diri, apa yang kurang dari kita. Ketiga, doa orang tua selalu mengiringi langkah kita. Salah satu penentu kesuksesan kita adalah doa orang tua. Maka, kita harus selalu mencari keridhoan Allah dan keridhoan mereka dengan berbakti kepada kedua orang tua kita.

Ya, perjalanan saya menyusuri stasiun-stasiun mati di Ponorogo berakhir di stasiun Slahung. Sebagai stasiun terminus, Slahung tentu berperan besar dalam perkembangan transportasi berbasis rel di Ponorogo zaman dahulu. Tentunya saat ini stasiun Slahung bersama stasiun-stasiun lain di Ponorogo hanya beristirahat menikmati masa-masa indahnya mengakomodasi masyarakat kota reog.
Read More

Saturday, 18 May 2019

Stasiun Non-aktif Balong yang Telah Beralih Fungsi


Perjalanan saya dan Balu berlanjut dari eks-stasiun Jetis ke arah selatan. Kami berdua menggeber sepeda motor melewati persawahan, hingga Pasar Ngasinan. Kami menemukan beberapa railbed (gundukan tanah) di sepanjang perjalanan. Dari pasar Ngasinan kami berbelok ke timur sampai berhenti di stasiun Balong. Ya, eks-stasiun Balong-lah yang menjadi destinasi napak tilas kami berikutnya.

Stasiun Balong sendiri terletak tidak tidak jauh dari pasar Balong. Ia berada di kawasan Desa Balong, Kec. Balong, Kab. Ponorogo. Seperti stasiun-stasiun lainnya, ia dibangun oleh Statspoorwegen pada tahun 1907 dan ditutup pada tahun 1984. Awalnya, stasiun ini akan menjadi stasiun terminus. Namun, seiring kebutuhan akan distribusi gamping dari Slahung, maka dibangun kembali jalur menuju Slahung yang akan dibahas kemudian. Stasiun ini termasuk dalam wilayah Aset Daerah Operasi VII Madiun.
Jalur nonaktif petak Jetis-Balong

Di sepanjang jalur menuju stasiun masih terdapat rel yang terlihat di pinggir jalan Ngasinan. Bekas-bekas fondasi jembatan rel masih tampak di jalur ini.  DI sekitar stasiun pun masih terlihat beberapa ruas rel kereta api.

Stasiun Balong sendiri masih utuh kondisinya. Bangunannya masih terawat dengan baik. Tulisan "BALONG +103" masih tertera di sisi timur stasiun. Namun, di papan tersebut sudah dipasangi kaca dan huruf G pada papan tulisan ditulis ulang. Model bangunannya mirip dengan stasiun Jetis. Kemiripan ini karena keduanya sama-sama dibangun oleh SS. Pintunya berada di sebelah kiri dari , agak berbeda dengan stasiun Jetis yang pintunya terletak di tengah bangunan
Tidak seperti stasiun Jetis, bangunan stasiun Balong masih digunakan. Namun, bangunan ini beralih fungsi menjadi toko daging. Sebuah plang kecil berwarna biru di sebelah pintu masuk menunjukkan fungsinya sebagai kios daging. Kios buka di siang itu. Akan tetapi, ia tampak sepi. Hanya terlihat satu motor terparkir di depannya. Sedangkan, motor tunggangan kami diparkirkan di seberang jalan agar tidak perlu menyeberang jalan sehingga dapat meneruskan perjalanan lebih mudah. 

Kami lalu mencari belakang bangunan stasiun Balong. Diperkirakan di sanalah emplasemen stasiun berada. Kami menemukan sebatang besi bekas rel kereta api yang teronggok di belakang stasiun  Peron stasiun sendiri sudah tidak terlihat lagi. Bagian belakang stasiun yang merupakan lorong menuju peron sudah ditembok hingga tak terlihat lagi bekasnya. Selain itu, emplasemen stasiun sudah tak tampak bekasnya. Sebagian sudah didirikan bangunan di atasnya, sebagian lagi dipagari oleh penduduk sekitar. Hanya besi bekas rel yang tersisa di bekas emplasemen.

Setelah blusukan ke belakang stasiun, kami mencoba masuk ke dalam untuk melihat interior stasiun. Saat kami mencoba masuk ke dalam stasiun, kami ternyata "disambut" oleh tiga orang dewasa yang sedang duduk-duduk. Nampaknya mereka sedang asyik mengobrol. Ketika kami mencoba mengajak ngobrol, mereka justru menanggapi dengan dingin. Mungkin karena mereka tidak senang dengan kedatangan kami. Mungkin juga mereka melihat kami kurang sopan. 

Karena tidak enak hati, kami pun hanya bertanya sekedarnya. Saya sempat mengabadikan interior stasiun yang sedikit banyak telah dirubah. Etalase dan kasir toko telah ditambah dan ruangan yang kira-kira  dulunya ruang kepala stasiun dijadikan kamar. Gambar Garuda Pancasila dipajang besar di atas kamar itu.

Kami pun mengakhiri blusukan kami ke stasiun Balong. Seandainya kami lebih menjaga unggah ungguh dalam beretika, tentu penjelajahan kami akan lebih leluasa. Lagipula, Tidak semua orang mau menerima orang lain dengan terbuka. Jika demikian, tak usah kita hiraukan orang-orang yang tak sudi dengan kita. Kami pun tancap gas melanjutkan napak tilas menuju stasiun terminus di Ponorogo, stasiun Slahung.

Sumber peta: University of Texas Libraries
Read More

Tuesday, 30 April 2019

Menjelajahi Bekas Stasiun Jetis yang Menyendiri

Setelah menjelajahi stasiun Ponorogo, saya bersama Iqbalullah "Balu" melanjutkan pernelusuran kami ke stasiun-stasiun mati di kota Ponorogo. Kami bergerak ke arah selatan menuju arah Pacitan melewati kawasan Tonatan dan Ponorogo City Centre (PCC). Kemudian berbelok ke selatan menuju Jetis melewati kawasan Siman dan kampus tercinta UNIDA Gontor tentunya.

Setelah perjalanan sekitar 7 menit dan sempat berhenti sejenak untuk mengambil uang, kami pun menghentikan langkah kami di stasiun Jetis. Stasiun Jetis berada agak menjauh dari pasar Jetis, kira-kira 200 m di selatan pasar. Stasiun Jetis terletak persis di pinggir jalan raya Jetis (Jl. Gajahmada versi Google Maps). Meskipun menjauh dari pasar, eks stasiun masih terbilang strategis karena masih dekat dengan beberapa toko.

Oh, ya! Sebelumnya, aku kelaskan sedikit informasi tentang bekas stasiun ini. Stasiun Jetis adalah stasiun kereta api non-aktif yang terletak di desa Jetis, Kec. Jetis, Kab. Ponorogo. Stasiun non-aktif ini berada di ketinggian +103 mdpl dan termasuk ke dalam Wilayah Aset Daop VII Madiun. Stasiun ini dibangun oleh Statspoorwegen (SS) dan dibuka tahun 1907 seiring perpanjangan jalur Madiun-Ponorogo hingga Balong. Pembangunan jalur tersebut dimaksudkan untuk mengakomodasi angkutan hasil bumi dari pelosok Ponorogo ke Madiun yang selanjutnya dipasarkan ke kota-kota besar lainnya. Namun, nasibnya sama dengan stasiun Ponorogo. Stasiun ini harus ditutup pada 1984 karena okupasi rendah.

Kembali ke perjalanan! setelah tiba di eks-stasiun Jetis, kami pun memarkirkan tunggangan tepat di depan stasiun. Siang hari itu cukup cerah di sekitar Jetis dan cuacanya panas. Gaya arsitektur klasik a la SS masih kental dengan plesteran batu kali di bawahnya.  Seluruh temboknya dicat warna putih. Di bagian tengahnya terdapat pintu  dan jendela dari tripleks berwarna coklat. Keduanya diapit oleh dua tiang dari plesteran batu yang berwarna senada dengan warna dinding. Di bagian atas sisi utara bangunan tertulis "DJETIS +103", sebuah tanda lokasi dan ketinggian stasiun berada. Tulisannya masih awet tulisannya karena dibuat dari cetakan semen. Ketika itu, nama stasiun dibuat dari semen yang dicetak, bukan dari plang besi seperti yang ada di stasiun-stasiun kereta saat ini.

Dilihat dari depan, bangunannya masih terawat dan apik. Namun, saat kami blusukan lewat gang kecil di sebelah utara bangunan, ternyata kondisinya cukup menyedihkan! Ia tampak seperti rumah tua yang ditinggalkan oleh penghuninya. Peron stasiun menghadap ke timur dan agak menjorok ke dalam. Eks stasiun ini sempat digunakan sebagai rumah tinggal. Buktinya, banyak barang-barang rumah tangga berserakan di peron stasiun. Bekas peron kemudian digunakan sebagai pintu belakang rumah tersebut.

Saya juga menyempatkan untuk menyeberang stasiun. Di seberang stasiun terdapat 3 unit rumah yang juga sama-sama bergaya klasik. Rumah pertama dicat dua warna, biru muda di bagian atas dan biru dongker di bawahnya. Rumah kedua lebih kecil dari yang pertama. Rumah terakhir seukuran dengan yang pertama tetapi dicat dengan warna berbeda, yakni kombinasi antara krem dan coklat tua. Rumah terakhir ini yang paling terlihat dari luar karena posisinya yang menghadap langsung halaman. Sedangkan, dua rumah di sampingnya terlihat mojok. Ketiga rumah tersebut kemungkinan merupakan rumah dinas pegawai stasiun. Hal itu terlihat dari papan tanda aset PT KAI (masih menggunakan logo Perumka) di samping pintu rumah ketiga. Ketiga rumah tersebut masih berpenghuni dan terawat dengan baik.

Kemudian kami kembali ke depan stasiun. Kami mencoba membuka pintu depan untuk melihat interior stasiun. Ternyata pintunya dikunci. Sepertinya penghuni rumah ini telah mengunci rumah ketika pindah, atau mungkin PT KAI sebagai empunya bangunan yang menutup akses ke dalam untuk umum setelah si penghuni meninggalkan rumah. Kami terpaksa mengintip dari jendela. Ukuran jendelanya tinggi besar khas bangunan lawas. Namun, kita tidak bisa mengintip lebar-lebar karena bagian dalamnya dilapisi oleh kertas. Dari jendela yang hanya sedikit terbuka, nampaklah interior bekas stasiun. Terlihat dua tiang batu berdiri membatasi antar dua ruangan yang berbeda ukuran. Ruangan depan lebih luas dari yang belakang. Kemungkinan ruang yang lebih luas adalah ruang tunggu dan satunya adalah peron stasiun.


Selesai iseng mengintip jendela stasiun, kami kembali ke peron stasiun. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, peron stasiun telah dijadikan halaman belakang oleh si penghuni rumah. Emplasemen stasiun pun sebagiannya telah tertutup oleh bangunan tinggi. Bangunan itu berdiri tepat di belakang bekas stasiun. Sepertinya bangunan itu adalah gudang barang-barnag pasar. Selain gudang, kawasan emplasemen stasiun dijadikan tanah lapang oleh penduduk. Ada juga beberapa rumah yang berdiri di areal tersebut.

Ketika kami hendak beranjak dari stasiun, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil kami. "Woy...!" Sontak kami pun terkejut. Awalnya kami mengacuhkan suara tersebut dan berniat untuk beranjak dari tempat itu. Namun, ternyata suara itu kembali menggema. Kami pun bertambah bingung. Akhirnya, kami memberanikan diri kembali ke belakang dan memeriksa keadaan. Kami pun membalikkan badan dan memandang ke belakang. Ternyata, kami melihat dua orang pria duduk di amben (balai-balai) bambu. Salah seorang dari mereka sudah tampak tua dan satu lagi lebih muda. Kami tampak saling menatap.

Kami pun mendekati mereka berdua dengan perasaan takut. Takut kalau ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Pelan-pelan kami mendekati mereka hingga jarak kami sejengkal dengan mereka berdua.

Si kakek tua tampak melambaikan tangan memanggil kami. Semakin dekat, kami pun berhadapan dengan beliau. Kemudian, beliau mempersilahkan kami duduk di sebelahnya. Balu-lah yang duduk di sebelahnya. Sementara, saya berdiri di depan mereka. Balai-balainya hanya cukup diduduki bertiga sedangkan kami sudah berempat di sana.

Mbah Slamet (bukan nama aslinya) kemudian menanyakan asal kami. Karena menggunakan bahasa Jawa, Balu yang asli Trenggalek yang menjawab pertanyaan beliau. Ia kemudian yang paling banyak mengobrol dengan Mbah Slamet. Ia sangat fasih berbahasa berbahasa Jawa kromo (halus) sehingga hampir selalu bisa menanggapi apa yang dikatakan oleh Mbah Slamet. Sedangakan saya hanya menyimak sambil bersandar di tiang rumah.

Setelah basa-basi, beliau bercerita tentang bagaimana jalur ini masih ada. Sekali lagi dengan bahasa Jawa. Kata beliau, beliau tahu banyak tentang kereta api yang selalu lewat meskipun beliau jarang naik kereta. Ini karena beliau punya banyak teman yang dari Pacitan yang sering naik kereta api.

Mengenai jalur yang sudah tak aktif, beliau ternyata masih membayar retribusi untuk KAI. Retribusi dibayar setiap 3 tahun sekali. Pihak KAI-lah yang datang ke sana menagih ke beliau dan para warga yang menempati wilayah aset. Namun, beliau tidak menyebutkan berapa nominal yang harus dibayar.

Beliau juga berpesan kepada kami bahwa kita harus minta izin kalau mau mengambil sesuatu. Jangan mencuri, jangan mengambil hak milik orang lain. Beliau mungkn sejak awal telah memantau gerak-gerik kami selama napak tilas di stasiun. Sepertinya, Mbah Slamet melihat kami mengambil gambar dan video seperti pencuri, asal jepret tanpa permisi. Mendengar nasihat beliau, kami malu-malu sendiri.

Begitulah sedikit catatan napak tilas saya di eks Stasiun Jetis. Stasiun ini menyimpan sejarah yang besar sebagaimana stasiun Ponorogo. Sayangnya, saat ini ia dibiarkan berdiri mematung tanpa ada yang memedulikannya. Padahal, ia pernah menunjang perekonomian kota ini. Letaknya yang dekat dengan pasar Jetis menjadi bukti bahwa ia telah berjasa dalam peningkatan ekonomi masyarakat Kota Reog. Saat ini, biarlah ia menjadi saksi bahwa kereta api telah lalu lalang melintas jalanan Ponorogo.

Nb: Mohon maaf apabila beberapa foto tidak berkualitas baik karena ia hasil capture dari video pribadi saya.

Read More

Tuesday, 2 April 2019

Menyusuri Stasiun Ponorogo, Stasiun Mati yang (Dahulu) Menopang Ekonomi


Tulisan ini merupakan sedikit perjalanan saya bersama Iqbalullah "Balu" Azam, adik kelas saya dan sesama pecinta kereta api. Perjalanan kami dilakukan pada bulan September 2018 lalu. Kami menyusuri rel kereta dan stasiun non-aktif di Ponorogo, mulai dari stasiun Ponorogo, stasiun Jetis, Balong dan berakhir di stasiun Slahung. Setiap stasiun akan saya tuliskan catatan perjalanannya secara berseri.

Stasiun Ponorogo merupakan stasiun kereta api non aktif yang terletak di Mangkujayan, Kec. Ponorogo, Kab. Ponorogo. Stasiun ini berada di sekitar Pasar Legi Songgolangit. Ia berada di ketinggian +99mdpl ini dan termasuk dalam kawasan Wilayah Aset Daerah Operasi (Daop) VII Madiun. 

Stasiun Ponorogo dibangun sekitar tahun 1907 oleh Statspoorwegen seiring pembangungan Jalur Madiun-Ponorogo. Stasiun ini dibangun untuk memperlancar angkutan hasil pertanian dari Ponorogo ke Madiun untuk dikrimkan ke kota-kota lain atau diekspor. Stasiun Ponorogo awalnya merupakan stasiun terminus dari jalur tersebut. Akan tetapi, pembangunan jalur kereta api di Ponorogo dilanjutkan menuju Slahung keperluan distribusi bahan tambang. Jadilah stasiun ini awal dari alur Ponorogo-Slahung. Selain itu terdapat pulajalur kereta menuju Babadan namun jalur tersebut ditutup sejak penjajahan Jepang. Bekasnya pun hampir tidak terlihat lagi saat ini.
Jalur KA Ponorogo-Slahung tahun 1970an 

Stasiun Ponorogo dulunya melayani angkutan penumpang dan barang dari Slahung dan Madiun atau sebaliknya. Sarana kereta api yang digunakan adalah kereta dengan lokomotif uap. Kereta api dari Slahung biasa mengangkut hasil bumi berupa sayuran yang kemudian dipasarkan di Ponorogo dan Madiun. Jalur tersebut melintasi beberapa ruas jalan raya di kota Ponorogo seperti Jl. Soekarno-Hatta, Jl. Gadjah Mada, dan Jl. Juanda. Karena melayani lokomotif uap, stasiun ini memliki meja putar (turntable) untuk memutar lokomotif sehingga dapat digunakan untuk menarik kereta ke berbagai jalur. 

Sayang sekali, stasiun Ponorogo ditutup pada tahun 1984. Penutupannya seiring dengan penutupan jalur Madiun-Slahung. Jalur ini ditutup karena sepi peminat. Sejak awal dibuka hingga tahun itu, kereta api jalur tersebut hanya mengandalkan sarana kereta uap. Kereta uap berjalan sangat lambat sehingga kalah cepat dibandingkan alat transportasi lain. Hal inilah yang mengakibatkan kereta api okupansinya menurun sehingga harus ditutup.
Saat ini, stasiun tersebut telah beralih fungsi. Bangunannya masih utuh, namun kini digunakan untuk warung pecel dan kios pulsa. Ia telah menyatu dengan kawasan Pasar Songgolangit seiring pembangunan pasar yang semakin pesat. Warung pecel tersebut selalu laris. Bahkan, Maybi Probowo yang "mengantarkan" saya ke sana kehabisan pecel dan hanya memesan kopi.

Perjalanan kami dimulai dari kampus kami. Perjalanan dari kampus di daerah Siman ke sana menempuh sekitar 5-7 menit. Dari perempatan Gajah Mada belok kiri ke arah alun-alun Ponorogo melewati patung Warok dan kawasan Ngepos yang terkenal dengan satenya, kemudian lurus ke Polres Ponorogo di Jl. Bhayangkara. Kemudian belok kanan ke timur melalui Jl. Urip Sumoharjo menuju perempatan Sonnggolangit dan belok kiri ke utara di Jl. Soekarno-Hatta. Kira-kira 250 m setelah perempatan kami menjumpai warung dengan banner bertuliskan warung stasiun. 

Kami pun mencicipi nasi pecel khas eks Stasiun Ponorogo. Rasanya kami beruntung karena bisa datang pagi-pagi dan dapat menikmati sepiring nasi pecel. Seperti nasi pecel pada umumnya, nasi disajikan dengan sayur-sayur bersiram saus kacang. Tidak lupa tempe goreng sebagai lauk pauk juga dihidangkan. Rasa bumbunya sedang, tidak terlalu pedas dan tidak juga terlalu manis. Tak lupa secangkir kopi panas setelah makan untuk memulai penjelajahan. Harganya pun sangat terjangkau, sekali makan cukup menghabiskan Rp 7000,00- Rp 10.000,00 tergantung lauk dan minuman yang dipilih.

Sembari menikmpat sarapan nasi pecel, kami menyempatkan pula untuk mengobrol dengan penjual nasi pecel tersebut. Penjualnya adalah seorang wanita paruh baya, kira-kira usianya 40-an tahun. Ibu yang tidak sempat kami tanyakan namanya itu bercerita tentang warung itu. Kata beliau, warung pecel itu telah ada sejak stasiun aktif. Posisinya waktu itu agak masuk ke emplasemen. Meskipun stasiun kereta sudah tidak lagi aktif, warung pecel masih tetap berjualan hingga kini. Letaknya pun kini telah memenuhi setengah bangunan stasiun, berbagi tempat dengan kios pulsa di sebelahnya.

Kenyang dengan sepiring pecel, kami pun mengunjungi bekas emplasemen stasiun. Emplasemen berada tepat di belakang warung. Emplasemen tersebut menyisakan rel kereta dengan jumlah sekitar 3-4 ruas. Emplasemen stasiun menyisakan ruang terbuka berukuran lumayan luas yang digunakan warga setempat untuk parkir kendaraan bongkar muat pedagang. Rumah-rumah warga mengitari kawasan eks-emplasemen stasiun. 
Kondisi di bekas emplasemen stasiun Ponorogo

Kami didampingi oleh serang warga sekitar untuk berkeliling kawasan eks-stasiun. Pak Amir (bukan nama sebenarnya) menceritakan kepada kami bahwa dahulu stasiun ini ramai dengan bongkar muat barang dagangan dari dan ke pasar Songgolangit. Beliau juga menunjukkan kepada kami salah satu jalur kereta yang diduga sepur lurus menuju Slahung. Rel tersebut sudah tertutup oleh bangunan toilet dan musholla. 
Kondisi bekas rel di kawasan eks-stasiun Ponorogo


Bekas turntable yang jadi pembuangan bekas batok kelapa

Tak lupa beliau mengajak kami ke lokasi turntable. Lokasinya berada kurang lebih 20 meter di sebelah barat stasiun. Saat ini turntable tertutupi oleh pabrik tempe. Turntable hanya menyisakan lubang besar sedalam kira-kira 30 cm. Padahal, kedalamannya dahulu bisa lebih dalam dari yang terlihat saat ini. Saat kami ke sana, turntable hanya nampak seperempatnya karena sisanya dititup oleh warga menggunakan gedek (pagar dari anyaman bambu). Lubang bekasnya saat ini digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Lagipula, mau dijadikan apalagi kalau tidak dapat digunakan?

Banyak sejarah tersimpan dalam stasiun ini. Stasiun ini menjadi saksi kereta api sempat melintasi kota Ponorogo. Tidak hanya itu, stasiun ini pula telah menyaksikan bahwa kereta api telah menopang perekonomian masyarakat Ponorogo. Letaknya yang berdekatan dengan Pasar Songgolangit menjadikannya salah satu transportasi andalan mereka bagi masyarakat khususnya para pelaku usaha di kawasan pasar. Perkembangan teknologi transportasi khusunya transportasi jalan raya menurunkan okupansi kereta api hingga akhirnya harus dihentikan operasionalnya.

Sumber gambar: pribadi dan surabayaonline.co
Read More

Monday, 4 February 2019

Pengumuman | I am Back


Assalamualaikum...

I am back...

Setelah ditinggalkan hampir setahun (2018-2019) karena tuntutan akademik, akhirnya saya kembali aktif dalam blog ini.

Ke depannya, blog ini (ikhalidalraihan.blogspot.com) akan memuat cerita-cerita perjalanan dan mungkin resensi buku dan catatan lain yang dirasa perlu. Untuk "catatan receh" seperti opini dan cerita-cerita lain, akan dimuat dalam Tumblr saya. Hitung-hitung sekalian mengisi Tumblr yang udah lama tidak bisa diakses karena diblokir.

Untuk konten-konten opini yang masih ada di sini, akan saya pertahankan dan pindahkan secara bertahap ke Tumblr saya. Mohon maaf jika nanti ada beberapa tulisan yang mungkin akan tidak dapat diakses kembali.

Kemudian, saya berharap kritik dan saran yang membangun agar "rumah" ini dapat dinikmati bersama dan menjadi inspirasi bagi pembacanya.

Sekian dan terimakasih

Ikhalid Al Raihan
Read More

Thursday, 16 August 2018

Khutbatu-l Arsy Kedua di UNIDA Gontor sebagai Momentum Pembaharuan Niat


Pekan Perkenalan Khutbatu-l 'Arsy telah dilaksanakan di Universitas Darussalam Gontor pada hari Rabu hingga Kamis 8-9 Agustus 2018 lalu. Khutbatu-l 'Arsy kali ini adalah penyelenggaraan yang kedua setelah yang pertama dilaksanakan tahun 2017 lalu. Khutbatu-l 'Arsy tahun ini dilaksanakan dengan prosesi yang sama dengan tahun lalu atau yang biasa diadakan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Apel Tahunan dilaksanakan terlebih dahulu dengan upacara bendera, kemudian dilanjutkan dengan penampilan-penampilan dan diakhiri dengan parade barisan mahasiswa antar program studi. 


Penampilan-penampilan dalam Apel Tahunan mempertunjukkan berbagai atraksi kesenian Indonesia dari mahasiswa UNIDA Gontor. Mahasiswa menampilkan berbagai pertunjukan seni tradisional seperti Kentongan dari Banyumas, Campursari dari Surakarta, Topeng Ireng dari Magelang, dan kombinasi antara Tari Malulo dari Kendari Sulawesi Tenggara dan Poco-Poco dari Malulo yang menjadi Tarian Indonesia Timur. Selain kesenian tradisional, mahasiswa UNIDA Gontor juga menampilkan atraksi ekstrem seperti Pencak Silat, Taekwondo, dan Lempar Pisau dan Kapak (Lempika) oleh Resimen Mahasiswa (Menwa). Terakhir, mahasiswa menampilkan puisi dan sebuah persembahan untuk Dr. Dihyatun Masqon, M.A. Beliau wafat pada hari Rabu, 28 Februari 2018 lalu. Kepergian beliau masih menyisakan duka bagi kami mengingat beliau telah berjasa untuk kemajuan UNIDA dan beliau khas dengan keramahannya kepada semua orang.

Setelah pertunjukan seni, Apel Tahunan berlanjut dengan parade barisan mahasiswa antar program studi. Seluruh mahasiswa ikut serta dalam barisan prodi, termasuk mahasiswa pascasarjana dan peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU), kecuali mahasiswa S1 dari luar negeri. Mereka ada dalam barisan sendiri. Barisan mahasiswa asing berbeda dari tahun lalu. Jika tahun lalu mereka dipersatukan dalam satu barisan "Mahasiswa Luar Negeri", kali ini barisan dibuat berdasarkan negara asal mereka. Ada barisan mahasiswa dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand. Mungkin ini dibuat agar civitas academica UNIDA Gontor mengetahui negara asal mashasiswa. Selebihnya, seluruh mahasiswa ada dalam barisan prodinya masing-masing.

Baca juga: Alhamdulillah, Khutbatul Arsy Perdana di UNIDA Gontor Dilaksanakan


Khutbatu-l 'Arsy memiliki makna penting bagi mahasiswa UNIDA Gontor. Ia merupakan perpeloncoan bagi seluruh mahasiswa. Khutbatu-l 'Arsy adalah untuk mengenalkan universitas serta menguji kesanggupan dan keteguhan niat untuk ibadah thalabul 'ilmi (mencari ilmu) kepada mahasiswa baru serta memperbaharui niat untuk mahasiswa lama. Seakan-akan rektor sebagai kiai dalam universitas bertanya, "Anak-anakku, kalian sudah kami kenalkan UNIDA Gontor dan kegiatannya. Siapkah kalian memperbaharui niat kalian untuk ibadah thalabul 'ilmi dan hidup bermasyarakat di kampus ini??" 

Agenda penting lainnya dalam pekan perkenalan ini adalah Kuliah Umum tentang Kepondokmodernan yang disampaikan oleh Pimpinan Pondok dan Rektor UNIDA Gontor. Kuliah umum memperkenalkan sejarah UNIDA Gontor, sistem, nilai, dan langkah-langkah menuju World Class University. Seluruh pihak ikut serta dalam agenda ini, mulai dari mahasiswa, dosen, staf, dan tenaga kependidikan. Kuliah umum dilaksanakan untuk menyamakan persepsi dalam internal kampus, agar semua memahami sistem dan nilai-nilai kepondokmodernan dalam UNIDA Gontor.
Khutbatu-l 'Arsy adalah pekan perkenalan UNIDA sebagai lembaga Gontor. Cita-cita Gontor adalah menjadi universitas Islam yang bermutu dan berarti. Para pendiri Gontor (KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannanie, KH. Imam Zarkasyi. Disebut juga dengan Trimurti) telah mencita-citakan Gontor menjadi universitas Islam sejak penyerahan wakaf tahun 1958, bahkan jauh sebelum itu. Meski demikian, apa yang dicapai oleh UNIDA Gontor masih jauh dari apa yang dicita-citakan para pendiri. Para pendiri mewakafkan Pondok waktu itu demi keberlangsungan pendidikan di Pondok Modern. Para pendiri kala itu berkaca dari pengalaman pondok-pondok pesantren tradisional tempat mereka belajar. Dalam kacamata mereka, pondok pesantren tradisional adalah milik kiai. Jika kiai wafat, maka kepemimpinan pondok akan diteruskan oleh keturunannya. 

Dalam Khutbatu-l 'Arsy, KH. Hasan menekankan bahwa kita harus tahu dan mengerti "why" dan "what for". Mengapa dan untuk apa kita hidup, mengapa dan untuk apa kita belajar. Bahkan kita harus memahami mengapa dan untuk apa kita duduk (dalam pertemuan). Kita harus mengerti apa yang kita lakukan, mengapa kita melakukannya, apa tujuan kita melaksanakan sesuatu.

Selanjutnya, di atas pondok hanya Allah, di bawahnya hanya tanah. Gontor tidak di bawah yayasan, organisasi massa (ormas), atau organisasi politik (orpol) manapun. Bahkan yayasan berada di bawah otoritas pimpinan pondok. Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan. Gontor tidak boleh dibawa ke arah ormas atau orpol manapun siapapun yang menjadi kiainya. Pihak manapun tidak berhak mengintervensi Keterbukaan yes, intervensi no!

Islamisasi ilmu pengetahuan adalah core UNIDA Gontor. Islamisasi ilmu pengetahuan lebih dari sekadar integrasi ilmu, islamisasi ilmu "mengislamkan" cara pandang terhadap ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan hadir karena ada ghazwul fikri hebat yang hadir saat ini. Sekularisme, pragmatisme, liberalisme dan isme-isme menyimpang lainnya telah merambah ke dalam dunia pendidikan tinggi. Dalam proses islamisasi ilmu pengetahuan, seluruh mahasiswa dari prodi wajib mempelajari studi-studi Islam. Inilah yang dilakukan UNIDA Gontor untuk mencapai universitas Islam yang bermutu dan berarti. Siapapun yang memimpin UNIDA nantinya, islamisasi ilmu pengetahuan harus tetap menjadi core.

UNIDA Gontor mandiri dalam sistem, kurikulum, Sumber Daya Manusia (SDM), dan dana. Sistem pesantren menjadikan UNIDA Gontor mandiri serta mendidik kemandirian mahasiswa. Kurikulum UNIDA Gontor terintegrasi dengan mengacu pada Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) dan mengintegrasikannya dengan kajian Islamisasi ilmu pengetahuan. Seluruh program studi (prodi) juga wajib mengikuti akreditasi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). UNIDA Gontor juga melatih mahasiswa untuk melaksanakan seluruh kegiatan mereka secara mandiri. Dosen dan tenaga kependidikan turut dilatih mandiri dengan mengajar dan ikut membimbing mahasiswa tanpa menanyakan upah. UNIDA Gontor mandiri dalam pendanaan dengan mengandalkan iuran mahasiswa dan unit-unit usaha, tanpa bergantung dari dana bantuan.

Sebagai mahasiswa santri, kita harus berkomitmen untuk ibadah mencari ilmu. Pendidikan pesantren UNIDA Gontor berorientasi pada pengajaran ayat-ayat Allah, penyucian jiwa (tazkiat an-nafs), dan pendidikan agama Islam serta pengetahuan umum

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (Al-Baqarah 151).

Terakhir, untuk menuju World Class University, UNIDA Gontor harus berkaca pada kuantitas dan kualitas mahasiswa, lulusan, dosen dan SDM penunjang lainnya. Kita harus berusaha mencapai standar yang telah ditetapkan oleh lembaga-lembaga pemeringkat seperti BAN-PT, ISO dll. Kendatipun, UNIDA Gontor harus bisa mencapai standar ranking yang telah digariskan oleh pondok, merujuk pada Piagam Penyerahan Wakaf tahun 1958, yakni menjadi universitas Islam yang bermutu dan berarti serta menjadi pusat pengkajian ilmu Islam, bahasa Arab, dan ilmu pengetahuan umum dengan berjiwa pondok.


Akhir kata, perlu disampaikan bahwa Khutbatu-l 'Arsy di UNIDA Gontor adalah masa orientasi bagi seluruh civitas academica UNIDA Gontor. Seluruh pihak terlibat dan semuanya melewati masa-masa perpeloncoan ini. Diharapkan semuanya menata niatnya kembali dalam menempuh studi di UNIDA Gontor. 

Tulisan ini adalah buah pikiran saya atas apa yang disampaikan dalam Khutbatu-l 'Arsy lalu, maka sangat mungkin terdapat kesalahan dalam penulisannya. Untuk itu, saya memohon maaf atasnya dan meminta kritik, saran dan koreksi dari semua pihak yang lebih memahami.

Read More